Bima – Jumat Salam menyapa Kota Bima. Program Penjabat Gubernur NTB setiap pekan yaitu, Sapa/silaturrahmi ke Masyarakat Selesaikan aneka Masyarakat, atau Jumat Salam kembali digelar. Kali ini di Kota Bima (2/12/2023).
Taman Pantai Amahami Kota Bima dijadikan sebagai pusat kegiatan Jumat Salam. Warga Kota Bima, Pelajar, Mahasiswa bersama Aparatur Sipil Negara Perwakilan Perangkat Daerah (PD) Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov. NTB) dan Perangkat Daerah Pemerintah Kota Bima, senam bersama mengawali acara.
Miq Gita, sapaan akrab Pj. Gubernur NTB mengatakan bahwa acara Jumat Salam ini sekaligus sebagai ajang silaturrahmi, menyerap permasalahan d daerah tsb, mendorong pergerakan ekonomi juga “healing” relaksasi pelepas penat bagi aparatur sipil negara yang dari Senin s.d. Kamis rapat-rapat administrasi.
“Maka hari Jumat adalah forum silaturahmi turun ke masyarakat melakukan percepatan pembangunan merealisasikan apa yang kita rapatkan hari Senin, Selasa, Rabu dan Kamis.” kata Miq Gita.
Penanaman pohon mangrove oleh Pj. Gubernur NTB dan Pj. Walikota Bima menjadi rangkaian akhir acara di Pantai Amahami.
“Mudah-mudahan Bapak Pj. Walikota bersama Forkopimda, ASN, Mahasiswa, bisa menanam Kelapa atau buah-buahan agar suatu saat mimpi kita bisa menciptakan Kota Bima yang hijau Royo-royo, mangrove tumbuh subur, Bima menjadi tempat berakhir pekan yang menyenangkan!” pungkas Miq Gita optimis. Kemudian masing-masing PD seperti biasa, berkunjung ke Desa/Kelurahan binaan yang telah ditetapkan.
Sekretariat DPRD Provinsi NTB (Setwan) mendapat tugas pendampingan di Kelurahan Oi Foo, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Tim Setwan diterima di Kantor Lurah Oi Fo’o, oleh Sekretaris Lurah Bapak Syafrudin, bersama beberapa jajaran pemerintahan Kelurahan Oi Foo.
Diketahui dari beliau, mata pencaharian utama warga adalah bertani, dengan komoditi padi dan jagung, di lahan tadah hujan, kerajin tenun oleh ibu2.
“Inilah kendala yang dihadapi masyarakat diantarax blm ada irigasi tehnis, hanya bisa bercocok tanam setahun sekali menanti datangnya hujan. Untuk jagung alhamdulillah saat ini kami sedang mulai menanam.” Cerita Bapak Amrin, salah seorang Warga. Disamping bertani, perempuan Kelurahan Oi Foo juga terkenal dengan keterampilannya menenun. Hanya saja menurut pengakuan pak Amrin, pembeli hasil tenun hanya dari warga Kota Bima saja.
“Harga kain tenun kami 200 ribu rupiah, termahal 900 ribu rupiah. Namun pembeli hanya dari warga lokal saja. Dari Mataram tidak pernah ada yang datang beli,” ungkap Pak Mufran.
Permasalahan lain masyarakat yaitu kurang bantuan alat dan pemasaran hasil kerajinan, bantuan bibit bertani maupun ternak sangat kurang.
Rangkaian acara Jumat Salam, berlanjut di Sabtu Malam (2/12) berpusat di Masjid Terapung Kota Bima dengan tajuk “NTB bersholawat”. Kemudian di Hari Ahad (3/12) acara Upacara Peringatan Hari Bhakti PU, ditutup dengan Tasyakuran dan Soetta Fashion Street dirangkaikan dengan Bazaar UMKM dan Pasar Murah. (MOS)


















